,
      
"Sekiranya Kami turunkan Al-Qur'an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia agar mereka berpikir" (Surat Al-Hasyr:21)
Jumat, 28 Juni 2013 - 15:50:53 WIB
Cinta Dalam Pandangan Islam (bagian akhir)
Diposting oleh : Administrator
Kategori: Kajian Islam - Dibaca: 412 kali

Keindahan cinta seorang hamba kepada Tuhannya melebihi keindahan yang sekadar dirasakan oleh indra. Yang berhak mendapatkan cinta dengan makna yang sebenarnya hanyalah Allah SWT, hanya Allah lah satu-satunya alasan orang dalam menyatakan cinta. Langkah dalam menumbuhkan cinta kepada Allah yang dapat mengalahkan cinta kepada yang lain, ialah pertama, memperbanyak muraqabatullah (merasa diawasi oleh Allah) dan brziikir kepada-Nya. Cara terbaik dalam hal ini ialah dengan menafakuri dan mengingat-ingat nikmat Allah yang diberikan kepada manusia. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:” cintailah Allah atas apa yang Dia berikan kepadamu dari berbagai nikmat-Nya.”(HR Turmudzi dari Anas). Kedua, ialah dengan menjaga diri secara maksimal untuk menjauhi makanan haram.

 

Buah cinta manusia kepada Allah adalah kasih sayang kepada orang-orang yang dekat dengan-Nya dengan penuh penghambaan. Merasa ringan ketika berzikir kepada Allah menyebabkannya merasakan kenikmatan saat menyindiri, terutama pada sepertiga malam akhir. Kerinduan untuk bermunajat dan zikir kepada Allah, dapat menggangu tidurnya dan membangunkannya dari tidur nyenyak. Pada saat itu, ia tidak merasakan kenikmatan yang melebihi sikap berdiri di hadapan Allah, berzikir, bermunajat dan mengadukan seluruh persoalan yang dihadapi kepada-Nya.

 

Di antara dampak cinta kepada Allah yang paling jelas adalah tunduk dan patuh kepada Zat yang dicintai, menjalankan semua perintah dan menjauhi semua laranganNya. Cinta manusia kepada Rabbnya menuntut adanya kejujuran dan komitmen yang kuat terhadap Pencipta, melaksanakan perintah-perintahNya dan menjauhi larangan-laranganNya. Cinta manusia kepada Allah menuntut pelakunya memiliki niat yang kuat untuk tunduk terhadap hukum yang dibuat oleh Zat yang dicintainya. Manusia tidak cukup menggapai ridha Allah hanya dengan cinta. Namun, cintanya itu harus diiringi dengan penghambaan yang selalu menjaga hatinya dalam setiap aktivitas kehidupan.

Penghambaan yang sebenarnya adalah satu kondisi ketika seorang manusia memiliki perasaan butuh kepada Rabbnya sehingga ia berdoa, berharap dan meminta kasih sayang serta pertolongan. Ini merupakan tahapan mendekati Allah SWT dan kunci untuk menggapai ridhaNya. Pada saat qalbu ingin senantiasa beribadah kepadaNya sebagaimana naturnya, namun tidak dibarengi dengan fisik yang menunjang pula. Fisik yang cenderung melemah sehingga ibadah pun terlalaikan. Pada saat inilah bentuk penghambaan kepada Allah yaitu memohon atas segala kealpaan dan kelemahan diri untuk dapat beribadah kepadaNya. Dengan demikian, fenomena kelemahan yang Allah berikan kepada manusia, pada hakikatnya merupakan nikmat dari Allah kepadanya yang mendorong untuk melakukan penghambaan kepada Allah.

 

Bila Allah menanamkan dalam jiwa manusia rasa cinta untuk shalat pada malam hari, hal itu akan membuatnya ringan saat beranjak dari tempat tidur, menghulangkan rasa kantuk dan berusaha mencari kenikmatan dalam ibadah. Pentingnya cinta kepada Allah dan bahaya tidak mencintai Allah disebutkan dalam ayat berikut; ”katakanlah: jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perdagangan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai lebih kamu cintai daripada Allah dan RasulNya serta berjihad di jalan Nya, maka tunggulah sampai Allah memberikan keputusanNya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (Q.S At Taubah:24). Pun dalam Hadis telah dijelaskan bahwa cinta kepada Allah dan RasulNya menjadi syarat kebersihan iman.

Peran cinta dalam kehidupan manusia itu ada kalanya mewujudkan keimanan ke dalam perilaku sehari-hari. Hal ini terjadi bila cintanya diberikan kepada Allah dan RasulNya. Cinta luhur mampu memadamkan api nafsu dan kenikmatan dunia. Membangkitkan daya, lalu mewujudkannya dalam perilaku. Cinta rabbany, yang dapat mendekatkan yang jauh dan melunakkan yang keras. Semua rintangan menjadi kecil, kesulitan menjadi mudah. Yang menjadikan siapa pun rela melakukan apa pun dengan segenap jiwa dan raga untuk menggapai Ridha-Nya. Ridha Allah tidak akan digapai kecuali dengan iman di akal dan cinta di dalam hati.

 

Rahasia sukses dakwah ialah dibarengi dengan cinta kepada Allah dan RasulNya. Yaitu seorang yang berdakwah dengan perasaan cinta kepada Allah akan mendakwah dengan rasa cinta pula, yang mana berasal dari qalbu. Sehingga, sesuatu yang berasal dari hati dengan penuh cinta mudah untuk mengetuk hati lainnya pula. Cinta kepada Allah juga sebagai bekal agar diri tidak terjerembab ke dalam hawa nafsu. Cinta pada Allah adalah memberikan hak pribadinya di jalan dakwah ke jalan Allah, tidak mengambil keuntungan duniawi sedikit pun dari dakwah yang ia lakukan.

 

Dalam salah satu syair sufi terkenal, dikemukakan mengenai tahapan dimana cinta kepada Allah dapat hadir dalam diri manusia. Diawali dengan mengenal dan mengetahui adanya Allah, kemudian dengan banyaknya kesalahan dan dosa yang dibuat oleh manusia, akhirnya ia bertobat kepada Allah dengan menjalankan segala perintahNya dan menjauhi laranganNya. Dari sinilah mulai muncul manisnya cinta dan iman. Manusia pun sadar dengan segala nikmat yang dianugrahkan Tuhan untuknya, kebaikan-kebaikan Tuhan untuknya dan segala karuniaNya. Dengan itu manusia memohon untuk selalu dalam kebaikan dan ridhoNya. Kemudian tetap istiqomah dalam ketaatan kepadaNya, ayat-ayatNya menjadi petunjuk untuk selalu dalam ketaatan padaNya. Disaat inilah dengan segala perasaan dan kondisi serta pencapaian yang ada, manusia merasakan manisnya iman dan cinta kepada Allah. Dalam istilah lain dapat dikatakan fase keterpesonaan dengan segala yang ada pada Allah SWT. Setelah inilah Marusia memohon untuk tetap dalam keistiqomahan itu dan dalam manisnya cinta dan iman lepada Allah SWT, Rabb sekalian alam. Pada akhirnya akan mengantarkan Marusia lepada suatu bentuk hasil dari cinta ini. Yaitu kerinduan. Rindu untuk selalu berjumpa dengan Tuhan, mengingatNya dan dekat denganNya. Pada saat ini, akan mengantarkan pada perjumpaan yang abadi yaitu kematian. Perjumpaan yang dapat menghilangkan kehausan, kesedihan, keterasingan dan segala perasaan lainnya. Hal ini sejalan dengan senantiasa mencintaiNya dan mencintai apa yang dicintaiNya.

          Allah, Maha Pecinta telah menganugrahkan cinta ini kepada manusia. Sebagaimana tersebut dalam Al-Qur’an, yang telah mengajarkan untuk manusia tentang cinta beserta rumusannya dan kaidahnya. Cinta yang mengantarkan kepada keimanan, menelusuri nilai-nilai ketauhidan, menyingkap tabir-tabir hikmah penciptaan, melahirkan ketawadhuan dan cinta yang mengenalkan kepada Allah SWT, Dzat yang bertumpu muara cinta Adapun cinta dari segala cinta dan merupakan puncak dari cinta ialah cinta kepada Allah. Cinta kepada Allah sebagai jaringan cinta kepada hamba-hamba Allah dan bentuk cinta lain yang tidak keluar dari syariat.

          Cinta kepada Allah termanifestasikan dalam aktivitas nyata dengan melaksanakan perintahNya dan menjauhi laranganNya. Senantiasa mengingatNya dalam setiap nafas kehidupan serta konsekuensi adanya cinta ialah rindu, rindu untuk berjumpa dengan Allah. Dalam hal ini perjumpaan yang sesungguhnya hanya dapat direalisasikan dengan kematian. Rasa takut akan kematian akan hilang seiring dengan rasa cinta dan rindu yang memuncak untuk bertemu dengan Allah SWT. Sebagaimana panggilan Maha Pecinta kepada manusia dalam Q.S. Al-Fajr ayat 27-30:” wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang Ridho dan di ridhoiNya. Masuklah ke dalam golongan hamba-hambaKu. Dan masuklah ke dalam surgaKu. ” 

          Akhirnya, kita Memohon kepada Allah Yang Maha Agung dan Rabb Arsy yang mulia, agar senantiasa mendahulukan kecintaan kepadaNya di atas hawa nafsu serta mengharapkan ridhaNya dan kedekatan kepadaNya dengan hal tersebut.

 

 

Daftar Referensi:

 

Muhammad Utsman Najati. Psikologi Dalam Al-Qur’an: Terapi Qur’ani dalam penyembuhan gangguan kejiwaan. Al-Qur’an wa ilmun nafsi.  Penerj: M.Zaka Al-Farisi. Dar Asy-Syuruq, al-qoohiroh, mesir, 1992. CV Pustaka Setia 2005. Bandung

 

Abdul Muta’ali. Tauhid Cinta: untaian cinta dan kisah penuh makna dalam al-Qur’an;menggapai hakikat cinta yang tenggelam di lautan hawa nafsu. Purwakarta: Nur El-Syams Publishing. 2008

 

Abul Qosim Abdul Karim Hawazin Al-Qusyairi An-Naisaburi. Risalah Qusyairiyah; sumber kajian ilmu tasawuf. Penerj: Umar faruq. Ar-Risalatul Qusyairiyah fi’ilmit Tashawwuf. Jakarta: Pustaka Amani. 2007

 

Abdul Mujib. Kepribadian Dalam Psikologi Islam. Jakarta:2006. PT Rajagrafindo persada

 

Syekh Fattah. Gubahan Pecinta. Penerbit Serambi: 2007. Jakarta.

 

Ad-daa’wad Dawaa’. Ibnu Qayyim al-Jauziyyah. Penerj:Adni Kurniawan. Daar Ibnul Jauzi Riyadh, Saudi Arabia. Pustaka Imam Syafi’i. Jakarta:2009

 

Dr.Ramadhan al-buthy. Al-Qur’an kitab cinta. Al-Hubb fil Qur’an wa Daurul hubb fii hayatil insan. Penerj: bakrun syafi’i.  Penerbit Hikmah. Jakarta:2009.

 

Ms. Asfari dan Otto sukatno Cr. Mahabbah Cinta Rabi’ah al-Adawiyah. Yogyakarta: JEJAK, 2007.

 

           

 

 

 

 

Artikel Terkait
0 Komentar :


Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar :
 
 (Masukkan 6 kode diatas)